Welcome to my blog..... Terima Kasih Atas Kunjungannya ...

Mengenal Kitab Kuning

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kitab kuning itu istilah yang asalnya memang dari warnanya. Karena kitab itu umumnya cetakan lama, warna kertasnya memang kuning. Tapi sekarang ini, kitab-kitab 'kuning' itu sudah tidak kuning lagi.
Sekarang kitab-kitab itu sudah berwarna putih bersih. Kertasnya bagus dan kovernya tebal (hard cover). Sampulnya indah, kadang berlapis warna keemasan dan embos.
Pokoknya kitab kuning yang dulu itu, sekarang sudah jadi kitab yang keren. Bahkan sebagian kalangan malah menjadikan deratan kitab-kitab itu sebagai hiasan ruang tamunya. Walaupun saya suka geli sendiri, karena saya tahu persis yang memajang kitab itu tidak bisa bahasa arab.
Tapi saya hargai semangatnya. Karena beliau beralasan minimal punya dulu, masalah bisa baca apa tidak, wah itu gimana nanti saja. Gitu katanya.
Yang lain ada yang menyerah juga. Lama menyimpan kitab itu di lemari bukunya dan ternyata tidak bisa-bisa bahasa arab, terus kitab-kitab itu dihibahkan kepada saya. Alhamdulillah.
Kitab Turats
Istilah yang lebih tepat menurut pendapat saya adalah kitab Turast. Turast berarti warisan zaman dahulu. Dan sebenarnya kitab-kitab itu terdiri dari banyak jenis disiplin ilmu. 
Katakanlah misalnya kalau dari jenis tafsir, kitab hadits, kitab fiqih, kitab ushulul fiqh, kitab qawaid. Masing-masing jenis itu nanti masih ada lagi breakdownnya.
Karya Para Ulama
Secara umum, keberadaan kitab-kitab ini sesungguhnya merupakan hasil karya ilmiyah para ulama di masa lalu. Salah satunya adalah kitab fiqih, yang merupakan hasil kodifikasi dan istimbath hukum yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah.
Para santri dan pelajar yang ingin mendalami ilmu fiqih, tentu perlu merujuk kepada literatur yang mengupas ilmu fiqih. Dan kitab kuning itu, sebagiannya, berbicara tentang ilmu fiqih.
Sedangkan ilmu fiqih adalah ilmu yang sangat vital untuk mengambil kesimpulan hukum dari dua sumber asli ajaran Islam. Boleh dibilang bahwa tanpa ilmu fiqih, maka manfaat Al-Quran dan As-Sunnah menjadi hilang. Sebab manusia bisa dengan seenaknya membuat hukum dan agama sendiri, lalu mengklaim suatu ayat atau hadits sebagai landasannya.
Padahal terhadap Al-Qurandan Al-Hadits itu kita tidak boleh asal kutip seenaknya. Harus ada kaidah-kaidah tertentu yang dijadikan pedoman. Kalau semua orang bisa seenaknya mengutip ayat Quran dan hadits, lalu kesimpulan hukumnya bisa ditarik kesana kemari seperti karet yang melar, maka bubarlah agama ini.
Paham sesat seperti liberalisme, sekulerisme, kapitalisme, komunisme, bahkan atheisme sekalipun, bisa dengan seenak dengkulnya mengutip ayat dan hadits.
Maka ilmu fiqih adalah benteng yang melindungi kedua sumber ajaran Islam itu dari pemalsuan dan penyelewengan makna dan kesimpulan hukum yang dilakukan oleh orang-orang jahat. Untuk itu setiap muslim wajib hukumnya belajar ilmu fiqih, agar tidak jatuh ke jurang yang menganga dan gelap serta menyesatkan.
Salah satu media untuk mempelajari ilmu fiqih adalah dengan kitab kuning. Sehingga tidak benar kalau dikatakan bahwa kitab kuning itu menyaingi kedudukan Al-Quran. Tuduhan serendah itu hanya datang dari mereka yang kurang memahami duduk masalahnya.
Tidak Semua Kitab Kuning
Namun bukan sebuah jaminan bahwa semua kitab kuning itu berisi ilmu-ilmu syariah yang benar. Terkadang dalam satu dua kasus, kita menemukan juga buku-buku yang kurang baik yang ditulis dengan format kitab kuning.
Misalnya buku tentang mujarrobat, atau buku tentang ramalan, atau tentang doa-doa amalan yang tidak bersumber dari sunnah yang shahih, atau cerita-cerita bohong yang bersumber dari kisah-kisah bani Israil (israiliyat), juga ditulis dalam format kitab kuning.
Jenis kitab kuning yang seperti ini tentu tidak bisa dikatakan sebagai bagian dari ilmu-ilmu keIslaman yang benar. Dan kita harus cerdas membedakan materi yang tertuang di dalam media yang sekilas mungkin sama-sama sebagai kitab kuning.
Dan pada hakikatnya, kitab kuning itu hanyalah sebuah jenis pencetakan buku, bukan sebuah kepastian berisi ilmu-ilmu agama yang shahih. Sehingga kita tidak bisa menggeneralisir penilaian kita tentang kitab kuning itu, kecuail setelah kita bedah isi kandungan materi yang tertulis di dalamnya.
Sampai hari ini sebenarnya kitab kuning masih ada dijual di toko-toko kitab tertentu. Sebab pangsa pasarnya pun masih ada, meski sudah jauh berkurang dengan masa lalu. Yang menarik, harganya pun sangat bersaing.
Bayangkan, kitab-kitab itu hanya dijual dengan harga Rp 5.000-an saja hingga Rp 10.000, tergantung ketebalannya. Padahal isinya tidak kurang ilmiyah dan bagus dari buku-buku mahal yang berharga jutaan. Kalau dibandingkan dengan cetakan modern, uang segitu hanya bisa buat beli buku saku tipis sekali.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

0 Komentar untuk "Mengenal Kitab Kuning"

Back To Top