SQ: Psikologi dan Agama - Syafruddin Syaer

Terus bergerak dan Makin Siap

Welcome

Welcome to my blog..... Terima Kasih Atas Kunjungannya ...

Home Top Ad

Saturday, March 5, 2011

SQ: Psikologi dan Agama



Psikoanalisis

Psikoanalisis, disebut juga depth psychology,  mencari sebab-sebab perilaku  manusia pada dinamika jauh di dalam dirinya –pada alam bawah sadarnya. Sigmund Freud, bapak mazhab ini, adalah seorang neurolog yang hidup di Wina pada akhir abad  kesembilan belas. Waktu itu,  ilmu kedokteran masih sedikit sekali mengungkapkan sebab-sebab penyakit -baik fisik maupun mental.  Salah satu penyakit yang  banyak  terjadi adalah histeria. Penderita menunjukkan masalah-masalah fisik tanpa ada sebab-sebab fisik yang diketahui. Freud menghipnotis pasiennya untuk menghilangkan gejala-gejala histerisnya.
            Joseph Breuer, sejawatnya, melaporkan satu kasus. Dalam hipnotis, pasien dapat mengingat dan memahami pengalaman emosional yang menjadi penyebab gejala.  Kedua dokter ini kemudian menggunakan hipnotis untuk menangkap kembali memori yang terlupakan. Tidak semuanya berhasil. Lagi pula, sebagian pasien sulit dihipnotis; dan dampak positifnya tidak berlangsung lama. Dari sini, Freud mulai mengembangkan metode psikoanalisis untuk mendorong  pasien menggali ingatan lamanya tanpa hipnotis. 
            Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia, baik yang tampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran), disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Ada peristiwa mental yang kita sadari; ada yang tidak kita sadari tetapi gampang kita akses (pre-concious), dan ada yang sulit kita bawa ke alam sadar (unconscious).  Yang terakhir ini yang paling banyak menarik perhatiannya. Di alam bawah sadar inilah tinggal dua struktur  mental, yang merupakan bagian terbesar dari gunung es  kepribadian kita. Id, reservoir energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan saja; dan  superego,  reservoir  kaidah moral dan nilai-nilai sosial, yang diserap individu dari lingkungannya. Di puncak gunung es, ada ego,  yang berfungsi sebagai pengawas realitas. Apa yang Anda lakukan sekarang adalah hasil interaksi –sebetulnya konflik- di antara ketiga struktur mental itu. Anda jatuh cinta pada sekretaris Anda. Id berkata, “Peluklah dia!” Ego berkata, “Cek apakah dia juga suka padamu.” Dan superego menegur, “Haram Anda melakukannya.” (Saya sangat tidak suka dengan contoh ini, karena kuatir akan  menyinggung banyak di antara Anda). Sambil mengulangi yang sudah jelas,  kebanyakan dari konflik ini terjadi di alam bawah sadar Anda.
            Sesuai dengan perkembangan kepribadian kita, pada masa-kanak kita dikendalikan sepenuhnya oleh id. Pada tahap ini berlaku proses berpikir yang disebut Freud sebagai primary process thinking, berpikir proses pertama. Anak tidak dapat membedakan antara yang real dan tidak real, antara “aku” dan “bukan aku”, dan tidak mampu menekan impuls. Ia ingin memenuhi keinginannya waktu itu juga. Jika tidak dapat memuaskan kebutuhannya, ia tidak mampu menangguhkannya sampai nanti, tetapi berusaha mencari penggantinya. Jika bayi tidak memperoleh botel susunya, ia akan mengisap ibu jarinya. 
            Pada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa, ego sudah berkembang. Mereka mengikuti berpikir proses kedua, secondary process thinking. Ia sudah belajar menangguhkan pemuasan keinginannya untuk sesuatu yang lebih bagus. Ia menghindari makan yang enak, untuk bisa menyimpan uangnya. Anda sembunyikan cinta Anda kepada sekretaris Anda, sebelum  investasi Anda padanya memadai. Seorang dewasa juga tidak begitu saja mengganti pemuas kebutuhannya, karena tidak dapat memenuhi kebutuhan yang awal. Walaupun begitu,  pada orang dewasa sesekali muncul berpikir proses pertama. Ketika di kantor bos Anda memarahi Anda, Anda pulang dan memukuli anak Anda. Bos Anda digantikan dengan anak Anda. Jika pola berpikir anak-anak ini menguasai  seorang dewasa, terjadilah perilaku abnormal.
            Jika ada proses pertama dan kedua, adakah proses ketiga?  Ada, kata  Danah Zohar,  lebih dari satu abad kemudian. Proses pertama adalah EQ, proses kedua IQ, dan proses ketiga SQ. SQ inilah yang menghubungkan rasio dengan emosi, pikiran dan tubuh. Inilah pusat diri yang memberikan makna, dengan memadukan material yang berasal dari kedua proses sebelumnya.  Jika Freud melacak perilaku abnormal pada proses primer yang mendominasi orang dewasa, Zohar merujuk pada kecerdasan spiritual yang rendah. Apakah SQ adalah pikiran yang didominasi superego? Bukan, karena superego hanyalah menyerap nilai-nilai dari orang tua dan masyarakat, sedangkan SQ secara kreatif menciptakan nilai-nilai baru. Dengan SQ kita menyembuhkan diri kita, yang sudah tercabik-cabik karena kekosongan eksistensial. “We use SQ to deal with existential problems,” tulis Zohar.
            Dari sudut pandang ini, psikonalisis klasik  tampak sangat lemah. Ia mampu menjelaskan penyakit psikis akibat luka lama dari masa kecil kita; tetapi ia bisu ketika berhadapan dengan derita karena kekosongan eksistensial, karena kebingungan dalam memberikan makna.  Ia sangat terampil dalam menganalisis konflik di antara daya-daya psikis –antara impuls dengan pertahanan, jiwa versus tubuh, maturasi dan regresi, id versus superego, seks versus agresi. Ia hanya melihat psikhe sebagai pejuang yang bekerja keras untuk menyembuhkan luka-lukanya akibat konflik itu. Menurut Freud, tujuan psikoanalisis adalah mengurangi  derita neurotis menjadi ketakbahagiaan yang biasa –“not a particularly inspiring or ennobling goal for human existence,” (Cortright, 1997).
            Di antara murid-murid pertama Freud yang kecewa dengan tujuan psikoanalisis ini adalah Carl Gustav Jung.  Seraya memuji Freud  sebagai penemu dan pengungkap “ruang-ruang gelap” dari ketak-sadaran manusia, ia juga mengecam gurunya karena penekanan yang berlebihan pada seksualitas. Ketaksadaran bukan hanya terdiri dari komponen instingtual tetapi juga spiritual.  Jiwa kita bukan hanya mengandung  the personal unconscious,  himpunan dari pengalaman dalam kehidupan kita; tetapi juga the collective unconsious,  simpanan pengalaman yang dihimpun oleh nenek-moyang kita selama jutaan tahun, “sejarah tak tertulis” dari kemanusiaan sepanjang masa. Psikologi terlalu rendah jika hanya bertujuan mengurangi neurosis. Psikologi harus membantu manusia untuk menyambungkan dirinya dengan kedua alam tak-sadar ini. Jung menyebut individuation sebagai proses pengintegrasian the collective unconscious dalam kesadaran individu.  Individuation, menurut Jung, adalah “the unfolding and integration of human individuality...is a lifelong process by which what is potential in a human being is brought to realization and is integrated into the wholeness of a mature life.”
            The collective unconscious dilanjutkan dari generasi ke generasi melalui arketip (archetypes), bentuk dan citra universal yang terdapat pada mitos-mitos dari berbagai kebudayaan. Ketika berbicara tentang akar-akar kepribadian mnusia, Danah Zohar mengacu kepada dewa-dewa dalam mitologi Yunani. Dewa-dewa itu adalah arketip. Arketip mengorganisasikan ide dan citra, menentukan isi dan arah proses psikis. Kita tidak dapat mengetahui arketip secara langsung; kita hanya dapat menyimpulkannya dari arah dan bentuk pengalaman manusia. Sebagaimana insting mengatur tindakan  sadar secara teratur dan seragam, arketip mengatur persepsi  sadar secara teratur dan seragam pula.
            Sambil menghindari istilah-istilah teknis yang melelahkan (bukankah psikologi, seperti ekonomi, hanyalah anggapan umum yang dibikin sulit), saya ingin mengutip Cortright (1997, h.82-83);
            The collective unconscious mengandung di dalamnya arketip, atau bentuk universal yang membentuk psikhe dan mengorganisasikan pengalaman psikologis. Contoh arketip antara lain anak Tuhan, ibu agung, bidadari, tukang sihir, ksatria, penipu, orang tolol, penyembuh yang luka, raja, ratu, orang tua yang bijak, dan seterusnya. Kesehatan psikologis adalah kemampuan untuk membiarkan arketip ini memasuki kita, memberikan bentuk pada pengalaman psikologis kita dengan mengorganisasikan pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Derita dan tekanan psikologis timbul karena hanya mampu mengidentifikasi beberapa arketip saja, sehingga membatasi jati diri dan perasaan.
            “Misalnya, jika jati diri seseorang adalah memainkan peran bos yang galak di tempat kerja dan ia tidak dapat memasukkan ke dalam pengalamannya arketip yang lainnya ketika ia pulang, misalnya sebagai anak abadi, pecinta, si tolol –jika ia hanya memainkan lakon bos yang galak ketika ia bermain-main dengan anak-anaknya atau bercinta dengan istrinya, maka kehidupannya akan sangat terbatasi. Kekayaan pengalaman dari perasaan, kreativitas, dan spontanitas kehidupan tidak dapat mengalir ke dalam dirinya.
            “Makna utamanya ialah membuka diri kepada arketip yang lain atau energi universal dan membiarkan energi ini mengisi pengalaman kita. Pusat arketip psikhe adalah the self. The self digambarkan sebagai mandala yang merupakan citra the self, arketip pusat. Jung percaya bahwa kita tidak dapat secara langsung mengalami the self, tetapi ia harus diketahui secara tidak langsung. Kita mendapat bimbingan dan pengarahan dari padanya melalui simbol mimpi dan citra. Citra yang menggambarkan the self  berubah ketika orang bergerak menuju arah yang baru. The self itu sendiri tetap sama, tetapi gambaran the self berubah dan perlu diperbaharui secara periodik. Ketika psikhe yang sedang mengalami individuasi bergerak, citra mitos dan simbolik yang baru akan muncul pada ego yang mengungkapkan gerakan ini. Ego sadar kemudian perlu diorganisasikan kembali sesuai dengan garis-garis yang ditunjukkan oleh the self. Reorganisasi terjadi pada dua tingkat: ego sadar dan kedalaman arketipal.
            “Menurut Jung, ego berkembang pada paruh pertama kehidupan dan difokuskan pada dunia dan tindakan –melakukan sesuatu, menjalankan, membentuk ego independen, dan mencapai kemampuan tertentu di dunia. Tapi pada usia 35 sampai 45 atau lebih tua, pada paruh baya, ego yang dewasa mulai menderita perasaan keterasingan dan kehilangan makna. Ia mulai menengok ke dalam. Separuh kehidupan kedua ditandai dengan memusatkan perhatian pada kehidupan batiniah dan memunculkan apa-apa yang belum dikembangkan pada paruh kehidupan yang pertama. Misalnya, jika bagian psikhe yang aktif, bersifat maskulin, “berbuat” (doing) dominan pada paruh yang pertama, sisi psikhe yang feminin, “mengada” (being) akan menjadi lebih dominan pada paruh yang kedua. Jika orang tidak mau mendengarkan gerakan batiniah ini, ia akan mengalami derita psikis yang makin berat, kekosongan dan alienasi”
Pembagian kehidupan manusia pada dua paruh –pagi dan petang-  kelak ditambahkan setalah tahap pertama perkembangan dalam psikologi transpersonal. Tahap pertama, pre-egoic adalah  masa pra-Oedipus ketika ego yang lemah dan belum berkembang dikuasai oleh the collective unconscious.  Pada tahap kedua, pada pagi hari kehidupan, ego yang mendewasa melepaskan diri dari padanya. Pada tahap ketiga, pada sore hari kehidupan, ego yang kuat dan dewasa diserahkan dan disatukan kembali dengan the collective unconscious.  Di sini manusia menempuh perjalanan panjang menuju kedalaman ruhnya. Inilah kehidupan spiritual.
“Kehidupan spiritual –kehidupan yang ditempuh mengikut sebuah cita-cita- di mana orang dengan tabah memilih jalan hidupnya,  menuntut kehidupan yang melintasi konvensi-konvensi sosial, moral, religius, politis, dan filosofis. “Anak-anak sejati” Tuhan adalah ia yang berani melanggar konvensi dan mengambil “jalan curam dan sempit” menuju dunia yang tak diketahui. Kehidupan seperti itu, menurut Jung, disebut “vocation”: berpisah dengan kelompok dan mengurbankan diri untuk memenuhi ‘panggilan’. Individu dipanggil untuk mengikuti bintangnya, untuk mentaati hukumnya, untuk mendengarkan bisikan dari ruhnya yang terdalam –his inner spirit.”  (Fuller, 1994, hal. 104).  Jika manusia tidak mau mendengarkan suara batinnya,  ia akan mengalami neurosis. Ia akan terhambat dalam perkembangan kesadarannya. 
Pada tangan Jung, alam tak sadar Freud yang instingtif-seksual berubah menjadi reservoir energi spiritual. Tidak heran ketika Freud meminta Jung untuk berhenti berbicara tentang spiritualitas, Jung menolaknya. Ia kemudian dikucilkan dari komunitas psikoanalisis.  Perbantahan di antara keduanya tergambar dalam obrolan mereka di rumah Freud di Wina. Mereka memperbincangkan parapsikologi. Jung menjelaskan gejala psikologis dengan mengakui keberadaan ruh. Freud membantahnya. Tiba-tiba terdengar suara keras dari lemari buku. Kata Jung, suara keras itu mencerminkan topik parapsikologi yang mereka perbincangkan. Ia meramalkan bahwa suara itu akan terdengar lagi.  Freud mebantah kedua “teori” Jung. Dan sekali lagi suara keras itu terdengar. Tidak lama sesudah itu, Freud menulis surat kepada Jung. menyatakan bahwa terulangnya suara keras setelah Jung pergi meyakinkan Freud bahwa pengalaman spiritual itu tidak penting. Jung sendiri tetap bersikukuh dengan pendapatnya dan melahirkan konsep sinchronicity, “kebetulan yang berarti” yang  menunjukkan hubungan antara psikhe manusia dengan peristiwa psikis. Dentuman keras dari balik lemari buku adalah manifestasi arketip dari the collective unconscious. Adalah tugas kita untuk memperhatikan simbol-simbol itu dan mempergunakannya untuk membimbing kehidupan kita.
Banyak pengikut psikoanalisis mengkritik Jung karena meromantiskan the unconscious, dan selama hampir satu abad cahaya Jung berkerlip di hadapan gemerlap Freud. Menjelang milenium ketiga, dengan kehadiran psikologi transpersonal, Jung menjadi sangat popular. Tetapi sebelum sampai ke psikologi transpersonal, psikologi Jungian harus melewati dahulu  sentuhan psikologi humanistik –melalui Viktor Frankl, murid Alfred Adler, yang pada gilirannya murid Freud yang  mengambil jalan berbeda dari gurunya. 

Psikologi Humanistis

Psikologi humanistis muncul pada pertengahan abad kedua puluh sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Keduanya dianggap telah mereduksi manusia sebagai mesin atau makhluk yang rendah. Psikoanalisis berkutat pada insting-insting hewani dan memahami manusia dari perilaku pasien. Abraham Maslow, salah seorang perintis angkatan ini, berkata, “Dengan sedikit menyederhanakan, kita dapat menyatakan bahwa Freud seakan-akan memasok kita dengan separuh psikologi yang sakit, dan sekarang kita harus mengisinya dengan paruh lainnya yang sehat” (Maslow, 1968). Alih-alih meneliti manusia-manusia yang sakit, tidakkah lebih berguna mengumpulkan keterangan mengapa orang itu sehat, bagaimana orang  dapat tetap hidup bahagia di tengah-tengah penderitaan yang dialaminya.  Dalam kehidupan kita menemukan orang yang bahagia dalam situasi dan kondisi tertentu; juga orang yang bahagia  dalam situasi dan kondisi apa pun.
            Simaklah pengalaman Viktor Frankl. Pada perang dunia kedua, ia dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi Nazi yang mengerikan. Setiap hari ia menyaksikan tindakan-tindakan kejam -penyiksaan, penembakan, pembunuhan massal di kamar gas atau eksekusi dengan aliran listrik.  Pada saat yang sama, ia juga melihat peristiwa-peristiwa yang sangat mengharukan: berkorban untuk rekan, kesabaran yang luar biasa, daya hidup yang perkasa. Di samping para tahanan yang putus asa,  yang  mengeluh, “Mengapa semuanya ini terjadi padaku? Mengapa aku harus menanggung derita ini”, ada juga para tahanan yang berpikir, “Apa yang harus aku lakukan bahkan dalam situasi yang mencekam seperti ini.”  Yang pertama umumnya berakhir dengan kematian. Yang kedua banyak yang berhasil lolos dari lubang jarum kematian.
            Yang membedakan keduanya adalah pemberian makna. Pada manusia ada kebebasan yang tidak bisa dihancurkan bahkan oleh pagar kawat berduri sekalipun. Dan itu adalah kebebasan untuk memilih makna. Sambil mengambil pemikiran Freud tentang efek berbahaya dari represi dan analisa mimpinya, Frankl menentang Freud ketika ia menganggap dimensi spiritual manusia sebagai sublimasi dari insting hewani. Sambil memuji Jung karena mengungkap keberagamaan yang tak sadar, ia mengkritik Jung karena psikologismenya. Dengan landasan fenomenologis, Frankl membantah keduanya yang menjelaskan perilaku manusia sebagai akibat dari proses psikis saja. Baginya, pemberian makna berada di luar semua proses psikologis. Ia mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut logoterapi  (logos = makna).
Logoterapi memandang manusia  sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi: fisik, psikologis, dan spiritual. Untuk memahami diri dan kesehatan kita harus memeprhitungkan ketiganya. Selama ini dimensi spiritual diserahkan kepada agama, dan  pada gilirannya agama tidak diajak bicara untuk urusan fisik dan psikologis. Kedokteran, termasuk psikoterapi telah mengabaikan dimensi spiritual sebagai sumber kesehatan dan kebahagiaan. Tanpa memperhitungkan dimensi spiritual, kita akan melihat Dostoevski sebagai penderita epileptik dan Jean D’Arc sebagai skizopren.
            “Dimensi spiritual, disebut Frankl sebagai noos, yang mengandung semua sifat yang khas manusia seperti keinginan kita untuk memberi makna, orientasi tujuan kita, kreatifitas kita, imajinasi kita, intuisi kita, keimanan kita, visi kita akan menjadi apa, kemampuan kita untuk mencintai di luar kecintaan yang visio-psikologis, kemampuan mendengarkan hati nurani kita di luar kendali super-ego, selera humor kita. Di dalamnya juga terkandung pembebasan diri kita atau kemampuan untuk melangkah ke luar dan memandang diri kita, dan transendensi diri atau kemampuan untuk menggapai orang yang kita cintai atau mengejar tujuan yang kita yakini. Dalam dunia spirit, kita tidak dipandu; kita adalah pemandu, pengambil keputusan. Reservoir kesehatan ada pada setiap orang, apa pun agama dan keyakinannya. Kebanyakan dari reservoir ini terdapat di alam bawah sadar kita, adalah tugas seorang logoterapis untuk menyadarkan kita akan perbendaharaan kesehatan spiritual ini.” (Fabry, 1980, halaman 81)
            Frankl memberikan kontribusi banyak pada perumusan kecerdasan spiritual Danah Zohar. Pembahasan logoterapi tidak mungkin dituliskan di sini. Tetapi saya tertarik untuk mengungkapkan penemuan logoterapi yang dapat melengkapi kiat-kiat mengembangkan kecerdasan spiritual, di samping apa yang ditulis danah Zohar dalam bukunya tentang SQ. Ada berbagai teknik untuk mengungkap makna; tetapi ada lima situasi ketika makna membersit ke luar dan mengubah jalan hidup kita –menyusun kembali hidup kita yang  porak poranda.  Pertama,  makna kita temukan ketika kita menemukan diri kita (self-discovery).  Sa’di, penyair besar Iran, pernah kehilangan sepatunya di Masjid Damaskus.  Ketika ia sedang  bersungut-sungut meledakkan kejengkelannya, ia melihat seorang penceramah yang berbicara dengan senyum ceria. Tampak dalam perhatiannya bahwa  penceramah itu puntung kedua kakinya. Tiba-tiba ia disadarkan. Segala kejengkelannya mencair. Ia sedih kehilangan sepatu, padahal di sini ada orang yang tertawa ria walaupun kehilangan kedua kakinya.
            Kedua,  makna muncul ketika kita menentukan pilihan.  Hidup menjadi tanpa makna, ketika kita terjebak dalam satu keadaan; ketika kita tidak dapat memilih. Seorang eksekutif pindah dari Bandung ke Jakarta. Ia mendapat posisi yang sangat baik dengan gaji yang berlimpah. Tetapi, ia juga kehilangan waktu untuk berkencan dengan keluarga dan anak-anaknya. Ia ingin mempertahankan jabatannya dan ingin punya waktu lebih banyak untuk keluarga. Pada suatu hari, ia  berdiri di depan rapat pimpinan dan menyatakan mengundurkan diri. Saat itu, ia merasakan kebahagiaan menemukan kembali makna hidupnya.
            Ketiga,  makna ditemukan ketika kita merasa istimewa,  unik, tak tergantikan oleh orang lain. “Aku senang bersama cucuku,” kata seorang kakek. “Ia suka bilang ‘Ikuti aku, opa’ dan aku menuruti semua kemauannya. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukan itu baginya. Ibunya juga tidak, karena terlalu sibuk.”  Seorang mahasiswa merasa sangat bahagia ketika Margaret Mead menanyakan pendapatnya. “Bayangkan, seorang Margaret Mead menanyakan pendapatku!”  Untuk mendapatkan pengalaman seperti itu, kata  Fabry, kita tidak selalu memerlukan Margaret Mead.  Carilah orang yang mendengarkan kita dengan penuh perhatian, kita akan merasa hidup kita bermakna.
            Keempat,  makna membersit dalam tanggung jawab. Fabry berkisah tentang seorang perempuan yang berlibur ke Acapulco tanpa suaminya. Di sana ia berkenalan dengan seorang anak muda yang tampan. Ia jatuh pada rayuannya. Ketika pemuda itu mohon diizinkan untuk mengunjunginya di kamar hotelnya, perempuan itu menyetujuinya. Ia tidak pernah selingkuh, tetapi ia sudah berpisah dengan suaminya selama dua minggu. Ada hasrat seksual yang bergejolak. Ia menunggu pemuda itu dengan penuh gairah. Tetapi ketika ia mengetuk pintu kamarnya, perempuan itu merasakan sengatan keras di jantungnya. Ketika ketukan pintunya itu makin keras, ia teringat suaminya. Ia memutuskan untuk tidak membuka pintu. “Lalu,” kata perempuan itu, “aku mendengar langkah-langkah kakinya menjauh. Aku menengok dia lewat jendela. Ketika aku melihatnya pergi, aku mengalami perasaan bahagia yang paling intens dalam hidupku.”
            Kelima,  makna mencuat dalam situasi transendensi, gabungan dari keempat hal yang di atas. Ketika kita mentransendensikan diri kita, kita melihat seberkas diri kita yang otentik, kita membuat pilihan, kita merasa istimewa, kita menegaskan tanggung jawab kita. Transendensi, kata Zohar, adalah pengalaman yang membawa kita ke luar dunia fisik, ke luar pengalaman kita yang biasa, ke luar  suka dan duka kita, ke luar diri kita yang sekarang, ke konteks yang lebih luas. Pengalaman transendensi adalah pengalaman spiritual. Kita dihadapkan pada makna akhir –ultimate meaning- yang menyadarkan kita akan aturan agung yang mengatur alam semesta. Kita menjadi bagian penting dalam aturan ini. Apa yang kita lakukan  mengikuti  rancangan besar, yang ditampakkan kepada kita. Tidak jadi soal apakah ia berasal dari the collective unconscious-nya Jung atau dimesi spiritualnya Frank.
            Sambil dengan cepat melewati Maslow, yang  menyebut pengalaman ini sebagai “peak experience” atau “plateau”, kita meloncat kepada  angkatan keempat psikologi transpersonal

Psikologi  Transpersonal

Menurut  Maslow, pengalaman  keagamaan adalah “peak experience”, “plateau”, dan “farthest reaches of human nature.”  Karena itu, psikologi belum sempurna sebelum difokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal. Ia menulis, “I should say also that I consider Humanistic, Third Force Psychology, to be transitional, a preparation for a still “higher” Fourth Psychology, a transpersonal, transhuman, centered in the cosmos rather than in human needs and interests, going beyond humanness, identity, self-actualization, and the like.” (Maslow, 1968, iii-iv)
            Di atas segala kritiknya terhadap angkatan-angkatan sebelumnya, psikologi transpersonal hanyalah kelanjutan dari psikologi humanistik, yang pada gilirannya melanjutkan pemikiran Jung dan Frankl.  Kita juga harus menyebut William James, yang dalam beberapa hal, mempengaruhi pemikiran Jung. Psikologi transpersonal berusaha menggabungkan tradisi psikologis dengan tradisi agama-agama besar di dunia. Ia ingin mengambil pelajaran dari kearifan perenial -philosophia perennis.
            Sepanjang zaman manusia bertanya, “Siapakah aku?”  Tradisi keagamaan menjawabnya dengan menukik jauh ke dalam, “wujud spiritual, ruh.”  Praktek-praktek keagamaan mengajarkan kita untuk menyambungkan diri kita dengan bagian diri kita yang terdalam ini. Psikologi moderen menjawab dengan menengok ke dalam (tidak terlalu dalam), “Self, ego, eksistensi psikologis” dan psikoterapi adalah perjalanan psikologis untuk menemukan  Diri ini. Psikologi transpersonal menggabungkan kedua jawaban ini. Ia mengambil pelajaran dari semua angkatan psikologi dan kearifan perenial agama. Ia mengajarkan praktek-praktek untuk mengantarkan manusia kepada kesadaran spiritual, di atas id, ego, dan superego-nya Freud.
            Agama-agama berbicara tentang kesadaran spiritual yang luas dan multidimensional.  Diri kita, eksistensi psikologis kita, hanyalah penampakan luar dari esensi spiritual kita. Penjelasan psikologis yang hanya berkutat pada penampakan luar jelas tidak memadai. Menyembuhkan gangguan mental dengan menggarap Diri lahiriah kita sama saja dengan mendorong mobil mogok tanpa memperbaiki mesinnya.
Cortright (1997, halaman 9) menulis, “Studi sedalam apa pun tentang genetika, biokimia, atau neurologi, pada satu sisi, atau sistem  keluarga, interaksi ibu-anak, dan pengalaman masa kecil pada sisi yang lain, atau dengan perkataan lain, tidak ada penjelasan apa pun, yang memperhitungkan hanya penampakan luar dari masalah nature (tabiat) dan  nurture (lingkungan), dapat memberikan jawaban memuaskan pada masalah fundamental kehidupan. Hanya denagn memandang ke dimensi spiritual, yang memasukkan dan sekaligus mentransendenkan warisan dan lingkungan, kita dapat menemukan jawaban yang tepat untuk masalah eksistensi manusia.”
Sejak 1969, ketika Journal of  Transpersonal Psychology terbit untuk pertama kalinya, psikologi mulai mengarahkan perhatiannya pada dimensi spiritual manusia. Penelitian dilakukan untuk memahami gejala-gejala ruhaniah seperti peak experience, pengalaman mistikal, ekstasi, kesadaran ruhaniah, kesadaran kosmis, aktualisasi transpersonal, pengalaman spiritual, dan akhirnya kecerdasan spiritual.  Dalam kerangka inilah, Zohar mendefinsikan kecerdasan spiritual sebagai “kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego, atau jiwa sadar. Inilah kecerdasan yang kita pergunakan bukan hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.” Sayangnya, Danah Zohar masih terikat dalam pemikiran psikologis dari angkatan-angkatan sebelum psikologi transpersonal.
Marsha Sinetar dan Khalil Khavari menyampaikan definisi kecerdasan spiritual yang lebih sesuai dengan perkembangan psikologi mutakhir. Menurut Sinetar, “Kecerdasan spiritual adalah pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan dan efektivitas yang terinspirasi, the is-ness atau penghayatan ketuhanan yang di dalamnya kita semua menjadi bagian.” (Sinetar, 2000 halaman 17)
Menurut Khalil Khavari, “Kecerdasan spiritual adalah fakultas dari dimensi non material kita-ruh manusia. Inilah intan yang belum terasah yang kita semua memilikinya. Kita harus mengenalinya seperti apa adanya, menggosoknya sehingga mengkilat dengan tekad yang besar dan menggunakannya untuk memperoleh kebahagiaan abadi. Seperti dua bentuk kecerdasan lainnya, kecerdasan spiritual dapat ditingkatkan dan juga diturunkan. Tetapi kemampuannya untuk ditingkatkan tampaknya tidak terbatas” (Khavari, 2000 halaman 23). Dengan nasihat Khavari di benak kita, bacalah buku SQ dari Danah Zohar. Mudah-mudahan ia mampu mengantarkan Anda pada pencerahan spiritual; atau paling tidak, pada pemaknaan yang mengubah hidup Anda menjadi lebih bahagia.

Bibliografi

Brown, N. 1959. Life Against Death. Middletown: Westleyan University Press.
Coleman, J.C. 1976. Abnormal Psychology and Modern Life. Illinois: Scott, Foresman and Company,
Cortright, B. 1997. Psychotherapy and Spirit: Theory and Practice. State University of New York.
Fabry, J. 1980. “Use of the Transpersonal In Logotheraphy”, dalam S. Boarstein, Transpersonal Psychology, Palo Alto: Science and Behaviour Books.
Fuller, A.R. 1994. Psychology and Religion. London: Rowman and Littlefield.
Hunts, M. 1982. The Universe Within. New York: Simon and Schuster.
Khavari, K. 2000. Spiritual Intelligence. Ontario: White Mountain Publications.
Maslow, A. 1968. Toward a Psychology of Being. Princeton: Von Nostrand
Sinetar, M. 2000. Spiritual Intelligence. New York: Orbis Books.
Shorto, R. 1999. Saints and Madmen. Henry Holt co. 
   Kata pengantar KH. Jalaluddin Rakhmat pada buku karya Danah Zohar dan Ian Marshall berjudul SQ (Spiritual Quotient); Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, Penerbit Mizan, Bandung 2001                   

No comments:

Post a Comment

Disqus Shortname

sigma2