Welcome to my blog..... Terima Kasih Atas Kunjungannya ...

Asal Manusia


Kompleksitas Cairan Pembuah
————————————————————
(5/5)
Ini merupakan suatu konsep yang sangat tepat dan dengan
gamblang diungkapkan dalam ayat-ayat Al-Quran berikut ini.
[Tulisan Arab]
“Sungguh Kami telah membentuk manusia dari sejumlah kecil
cairan yang bercampur.” (QS 76 :2)
Istilah ‘cairan-cairan yang bercampur’ berkaitan dengan kata
Arab amsyaj. Para pengulas terdahulu mengartikan kata ini
sebagai suatu cairan laki-laki dan wanita[9] sedemikian
sehingga seakan-akan wanita juga menghasilkan cairan-cairan
yang berperan dalam reproduksi. Penafsiran seperti ini tak
bisa dipertahankan lagi. Hal ini tak lain adalah cerminan
dari gagasan-gagasan yang populer pada saat Al-Quran
diwahyukan kepada manusia, suatu periode yang di dalamnya
secara amat alami orang tak tahu apa-apa tentang fisiologi
atau embriologi wanita. Hal ini menjelaskan kenapa para
pengulas terdahulu percaya pada kemaujudan suatu cairan yang
bersumber dari wanita yang berperan dalam proses pembuahan.
Celakanya, pendapat-pendapat seperti ini, yang diungkapkan
oleh para pengulas yang tak syak lagi sangat terkemuka dan
memenuhi syarat untuk berbicara tentang masalah-masalah
keagamaan, terus mempengaruhi penafsiran-penafsiran yang
diberikan oleh para ahli masa kini berkenaan dengan berbagai
macam masalah, yaitu gejala-gejala alam. Oleh karena itu,
kita mesti menegaskan fakta bahwa sel telur wanita tidak
terkandung di dalam suatu cairan seperti sperma, dan bahwa
berbagai keluaran getah yang benar-benar terjadi di dalam
vagina dan lendir rahim sepenuhnya tak ada hubungannya
dengan pembentukan suatu manusia baru sejauh menyangkut zat
aktual mereka.
‘Cairan-cairan yang bercampur’ yang dirujuk oleh Al-Quran
hanya khas bagi cairan sperma yang kompleksitasnya dengan
demikian terpaparkan.
Seperti kita ketahui, cairan ini terdiri atas
keluaran-keluaran getah dari kelenjar-kelenjar berikut ini:
buah pelir-buah pelir benih (mani), prostat* dan
kelenjar-kelenjar yang melekat pada saluran kencing.
Al-Quran masih menyebut hal-hal lain. Ia juga menjelaskan
kepada kita bahwa unsur pembuah pria berasal dari cairan
sperma.
“(Tuhan) menjadikan keturunannya dari saripati cairan yang
hina.” (QS 32:8)
Kata sifat ‘yang hina’ (mahin di dalam bahasa Arab) mesti
diterapkan tidak saja pada sifat cairan itu sendiri
melainkan juga pada fakta bahwa ia disemprotkan melalui
saluran kencing.
Mengenai kata ’saripati’, kita sekali lagi bertemu dengan
kata Arab sulalat, yang kepadanya kita tadi merujuk dalam
memperbincangkan pembentukan manusia, selama Penciptaan,
dari ’sari pati’ lempung. Hal itu menunjuk pada ’sesuatu
yang diambil dari sesuatu yang lain’, sebagaimana kita lihat
di atas, dan juga kepada bagian terbaik dari sesuatu ‘.
Konsep yang diungkapkan di sini tidak bisa tidak, membuat
kita berpikir tentang spermatozoa.
Penanaman Telur Dalam Organ-Organ Kemaluan Wanita
————————————————————
Penanaman sel telur yang telah terbuahi di dalam rahim
disebutkan dalam banyak ayat Al-Quran. Kata Arab yang
digunakan dalam konteks ini adalah ‘alaq, yang arti tepatnya
adalah ’sesuatu yang bergantung’ sebagaimana dalam ayat
berikut ini.
[Tulisan Arab]
“Bukankah (manusia) dahulu adalah sejumlah kecil sperma yang
ditumpahkan? Kemudian ia menjadi sesuatu yang bergantung;
lalu Allah membentuknya dalam ukuran yang tepat dan
selaras.” (QS 75:37-38)
Merupakan suatu fakta yang kuat bahwa sel telur yang dibuahi
tertanam dalam lendir rahim kira-kira pada hari keenam
setelah pembuahan mengikutinya dan secara anatomis sungguh
telur tersebut merupakan sesuatu yang bergantung.
Gagasan tentang ‘kebergantungan’ mengungkapkan arti asli
kata dalam bahasa Arab ‘alaq. Salah satu turunan dari kata
tersebut adalah ’segumpal darah,’ suatu penafsiran yang
masih kita temukan sekarang dalam terjemahan-terjemahan
Al-Quran. Hal ini sepenuhnya merupakan terjemahan yang tidak
tepat dari pengulas-pengulas zaman dahulu yang melakukan
penafsiran menurut arti turunan kata tersebut. Karena
kurangnya pengetahuan pada waktu itu, maka mereka tak pernah
menyadari bahwa arti asli kata tersebut sudah sepenuhnya
memadai. Di samping itu, dalam hal ayat-ayat yang mengandung
pengetahuan modern, ada satu kaidah umum yang terbukti tak
pernah salah, yaitu bahwa makna paling tua dari suatu kata
selalu merupakan arti yang dengan jelas menunjukkan
kesetaraannya dengan penemuan-penemuan ilmiah, sedang
arti-arti turunannya secara berubah-ubah membawa kepada
pernyataan-pernyataan yang tidak tepat atau malah sama
sekali tak punya arti.
Evolusi Embrio di Dalam Rahim
————————————————————
Segera setelah berevolusi melampaui tahap yang dicirikan di
dalam Al-Quran oleh kata sederhana ’sesuatu yang
bergantung,’ embrio, menurut Al-Quran, melewati satu tahap
yang di dalamnya ia secara harfiah tampak seperti daging
(daging yang digulung-gulung). Sebagaimana kita ketahui ia
terus tampak demikian sampai kira-kira hari kedua puluh
ketika ia mulai secara bertahap mengambil bentuk manusia.
Jaringan-jaringan tulang dan tulang belulang mulai tampak
dalam embrio itu yang secara berturutan diliputi oleh
otot-otot. Gagasan ini diungkapkan dalam Al-Quran sebagai
berikut:
[Tulisan Arab]
“Kami bentuk hal yang menjadi segumpal daging yang
digulung-gulung, dan segumpal daging itu Kami bentuk menjadi
tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus
dengan daging yang utuh.” (QS 23 14)
Dua tipe daging yang diberi dua nama berbeda di dalam
Al-Quran, yang pertama ‘daging yang digulung-digulung’
disebut sebagai mudhraj, sedang yang kedua ‘daging yang
masih utuh’ ditunjukkan oleh kata lahm yang memang
menguraikan secara amat tepat bagaimana rupa otot itu.
Al-Quran juga menyebutkan munculnya indera-indera dan
bagian-bagian dalam tubuh.
[Tulisan Arab]
“(Tuhan) menganugerahkan bagimu pendengaran, penglihatan dan
bagian-bagian dalam tubuh.” (QS 32:9)
Penunjukan dalam Al-Quran kepada organ-organ seksual mesti
juga kita perhatikan, karena perujukan olehnya sungguh
sangat tepat sebagaimana ditunjukkan oleh ayat ini.
[Tulisan Arab]
“(Tuhan) membentuk berpasang-pasangan laki-laki dan
perempuan dari sejumlah kecil (sperma) ketika sejumlah kecil
(sperma) itu dipancarkan.” (QS 53 :45-46)
Sebagaimana telah kita lihat di atas, Al-Quran menekankan
fakta bahwa hanya sejumlah amat kecil cairan sperma yang
dibutuhkan untuk pembuahan. Unsur pembuah pria, yaitu
spermatozoa, mengandung hemicromosom yang akan menentukan
jenis kelamin calon manusia itu. Saat-saat yang menentukan
terjadi ketika spermatozoa menembus sel telur dan kemudian
jenis kelamin tersebut tidak berubah. Ayat-ayat yang dikutip
di atas menunjukkan bahwa jenis kelamin manusia ditentukan
oleh sejumlah kecil cairan pembuah. Cairan inilah yang
membawa spermatozoa yang mengandung hemicromosom yang
menentukan bentuk seksual manusia baru. Dalam konteks ini
teks Al-Quran dan data embriologi modern secara sangat
mencengangkan ternyata sama.
Semua pernyataan ini sesuai dengan fakta-fakta kuat masa
kini. Tetapi bagaimana orang-orang yang hidup pada masa
Muhammad dapat mengetahui berbagai rinci embriologi? Karena
data ini belum ditemukan sampai seribu tahun setelah wahyu
Al-Quran diturunkan. Sejarah sains membuat kita menyimpulkan
bahwa tak ada satu penjelasan manusia mengenai kemaujudan
ayat-ayat ini di dalam Al-Quran.
Transformasi-Transformasi Bentuk Manusia Sepanjang Abad
dan Perkembangan Embrionik

————————————————————
Bagi orang-orang yang tidak akrab dengan embriologi dan
genetika, tidak segera tampak bahwa setiap dan semua
modifikasi yang berlangsung di dalam individu manusia
berasal dari perubahan-perubahan yang terjadi pada gen-gen
yang diberikan kepada individu baru oleh kromosom-kromosom
yang diturunkan dari ayah dan ibunya. Sebagaimana dinyatakan
sebelumnya, satu pembagian berlangsung dalam setiap warisan
genetis yang diikuti satu penyatuan unsur-unsur yang berasal
dari paruh masing-masing. Hal ini dengan cepat menimbulkan
awal perubahan-perubahan morfologis selama kehamilan, dan
dengan demikian juga modifikasi-modifikasi fungsional yang
muncul kemudian. Dengan demikian transformasi-transformasi
terus berlangsung setelah lahirnya sang bayi, melewati
pertumbuhan masa kecil, hingga individu tersebut mencapai
kedewasaan dan transformasi-transformasi tersebut sepenuhnya
sempurna.
Jika konsep-konsep ini tidak dipahami dengan benar, maka
kesalahan-kesalahan bisa terjadi berkenaan dengan
gagasan-gagasan orang-orang yang biasa berpikir bahwa
ayat-ayat Al-Quran yang dikutip dalam bab ini berkenaan
hanya dengan perkembangan bayi di dalam rahim dan
mengabaikan perkembangan morfologis berikutNya dari manusia
itu. Itulah sebabnya kenapa sangat penting untuk memasukkan
semua ayat yang merujuk pada reproduksi manusia dalam studi
kita mengenai bagian -bagian teks Al-Quran yang- sejauh yang
dapat saya lihat berhubungan dengan transformasi-transformasi
bentuk manusia selama berabad-abad.
Untuk menjernihkan persoalan ini, saya akan memberikan satu
contoh berkenaan dengan transformasi patologis yang terdiri
atas suatu kerusakan bawaan yang khususnya umum terjadi di
antara kesalahan-kesalahan pembentukan manusia: yaitu
mongolisme.° Penemuan-penemuan telah menunjukkan bahwa hal
itu disebabkan atau diakibatkan oleh berlipat tiganya suatu
kromosom yang telah diberi nomor 21, yang darinya kerusakan
tersebut mengambil nama Trisomi 21. Pada masa kini diketahui
bahwa penyebabnya terletak pada gen-gen yang terkandung
dalam kromosom dan bahwa kerusakan tersebut terjadi dengan
frekuensi maksimum ketika ibu sang bayi berumur lebih dari
40 tahun.
Penyakit tersebut dicirikan oleh suatu perkembangan fisik
dan intelegensia kanak-kanak dan bentuk-bentuk morfologis
khas tertentu yang barangkali tidak tampak jelas waktu
kelahiran tapi kemudian menjadi sangat nyata. Jadi, kondisi
tersebut dikenali, cepat atau lambat, sesuai dengan tingkat
keseriusannya. Meskipun demikian, apa pun kasusnya,
karakteristik dasarnya diperoleh selama minggu-minggu
pertama kehidupan.
Modifikasi-modifikasi morfologis yang bermacam-macam dalam
diri manusia mengikuti pola yang sama. Proses tersebut
bermula selama kehamilan, dan secara bertahap menjadi lebih
nyata hingga manusia tersebut mencapai kedewasaan. Dengan
demikian, selama generasi-generasi yang berturutan yang
memisahkan Australopitecus dari manusia modern (yang
mencapai sepuluh ribu unit), masuk akallah untuk beranggapan
bahwa tak sedikit modifikasi yang terjadi dalam setiap
generasi, yang secara bertahap tertumpuk hingga menghasilkan
transformasi-transformasi yang melahirkan manusia
sebagaimana kita kenali pada masa kini. Oleh karena itu,
adalah mustahil, berkenaan dengan hasil akhirnya, untuk
memisahkan modifikasi-modifikasi kecil yang selaras yang
terjadi atau berlangsung dalam setiap generasi di dalam
rahim dari transformasi-transformasi menyeluruh yang terjadi
atas sejumlah besar generasi. Penjelasan ini diperlukan
untuk memahami cara Al-Quran mengungkapkan konsep ini,
sehubungan dengan evolusi embrio di dalam rahim, menurut
kehendak Allah, sebagaimana dinyatakan dengan jelas di dalam
Al-Quran.
————-
Catatan kaki:
° Mongolisme: kepandiran bawaan, yang dalam kepandiran
bawaan itu seorang anak dilahirkan dengan tengkorak kepala
yang pendek dan rata (pesek), kedua mata yang sipit, dan
kelainan-kelainan lain -penyunting
SELESAI
Asal Manusia
Menurut Bibel, Al-Quran, Sains
oleh Dr. Maurice Bucaille
Penerbit Mizan, Cetakan VII, 1994
Indeks Islam | Indeks Bucaille | Indeks Artikel | Tentang Penulis ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
0 Komentar untuk "Asal Manusia"

Back To Top